Pergeseran Strategi data center APAC untuk 2026

Seri Prakiraan Tren data center 2026 – Bagian 2 dari 4

Kawasan Asia-Pasifik tengah mengalami transformasi infrastruktur digital yang belum pernah terjadi sebelumnya. Kawasan ini diperkirakan akan menyumbang sekitar 30% dari ekspansi kapasitas global selama lima tahun ke depan, dengan total investasi mencapai lebih dari $564 miliar hingga tahun 2028. Injeksi modal raksasa ini mengubah berbagai aspek, mulai dari komputasi awan (cloud) hingga penerapan kecerdasan buatan (AI). Sementara titik pusat legacy seperti Singapura dan Tokyo menghadapi kendala daya dan kelangkaan lahan, kelas baru pasar berkembang mulai menonjol—menciptakan peluang yang tidak tersedia beberapa bulan yang lalu.

Alasan Akselerasi Ekspansi data center APAC Saat Ini

Beberapa kekuatan konvergen menjadikan tahun 2026 sebagai titik balik bagi infrastruktur digital di seluruh kawasan.

Kecerdasan Buatan dan Komputasi Berdensitas Tinggi (High Density)

Revolusi kecerdasan buatan generatif terus berlanjut. Beban kerja AI modern memerlukan rak berdensitas tinggi khusus dan sistem pendinginan canggih. Industri mencatat peningkatan rata-rata kepadatan daya rak server, dengan adopsi yang lebih luas pada rentang 10 kW hingga 30 kW; namun, fasilitas yang melebihi 30 kW masih relatif sedikit, dan fasilitas dengan kepadatan sangat tinggi masih jarang ditemui, sebagaimana dicatat dalam Survei data center Global 2025 dari Uptime Institute. Peningkatan densitas ini menciptakan permintaan mendesak terhadap fasilitas baru yang siap mendukung AI.

Aturan Kedaulatan Data

Pemerintah di seluruh Asia Tenggara memberlakukan persyaratan residensi data yang lebih ketat. Vietnam, Thailand, dan Indonesia telah memperkenalkan regulasi yang mengharuskan data keuangan dan pribadi tetap berada dalam batas wilayah nasional. Lonjakan yang didorong oleh kepatuhan ini mengharuskan perusahaan untuk tidak lagi mengarahkan semua proses melalui satu pusat tunggal seperti Singapura—mereka harus membangun fasilitas lokal di berbagai yurisdiksi secara bersamaan.

Arus Modal Masif

Berbagai pemilik modal (retail, privat, maupun negara) telah menilai data center sebagai aset portofolio yang berharga. Pasar telah menyediakan modal yang belum pernah terjadi sebelumnya, memungkinkan pengembangan secara cepat. Pasar data center Asia-Pasifik secara keseluruhan diproyeksikan tumbuh dengan Tingkat Pertumbuhan Tahunan Gabungan (CAGR) sebesar 12,40% dari tahun 2025 hingga 2035, didorong oleh joint ventures bernilai miliaran dolar ini.

Paradoks Daya: Tantangan dan Peluang

Diskusi seputar ekspansi data center APAC selalu kembali pada isu daya—namun narasi telah bergeser dari “daya murah” menjadi “daya tersedia dan berkelanjutan.”

Goldman Sachs memperkirakan bahwa permintaan daya global dari data center akan meningkat 50% pada tahun 2027 dan diproyeksikan naik hingga 165% pada tahun 2030 dibandingkan dengan tingkat tahun 2023. Di pasar yang telah mapan, kondisi ini menciptakan kemacetan aliran daya. Moratorium Singapura baru-baru ini (kini dicabut dengan persyaratan keberlanjutan yang ketat) memaksa operator untuk mencari lokasi alternatif. Tokyo menghadapi kendala serupa, di mana beberapa developer harus menunggu 3-5 tahun untuk koneksi jaringan listrik.

Asia adalah rumah bagi 83% dari pembangkit listrik tenaga batu bara dunia, namun investasi listrik bersih kini secara signifikan sudah melampaui investasi bahan bakar fosil di kawasan ini. Total pangsa energi terbarukan gabungan di Asia mencapai 29% pada tahun 2024. Hyperscaler menuntut Perjanjian Pembelian Daya yang melingkupi energi terbarukan. Dan penyedia yang bisa menyuplai daya hijau murni mendapatkan harga premium—bahkan di pasar di mana batu bara masih mendominasi bauran jaringan listrik.

Baca juga: Penggerak Masa Depan : Integrasikan Energi Terbarukan di Data Center

Proyeksi untuk 2026: Tren Kunci yang Mendefinisikan Pasar

Pendinginan Cair Menargetkan Densitas Tinggi

Meskipun pendinginan udara tetap menjadi standar dasar untuk sebagian besar fasilitas, kebutuhan untuk mendukung klaster AI berdensitas ekstrem (umumnya lebih dari 30 kW per rak) mendorong adopsi pendinginan imersif dan direct-to-chip sebagai spesifikasi dasar untuk fasilitas yang baru dibangun. Hal ini mencerminkan tuntutan perangkat keras yang muncul di pasar.

Pengembangan Modular dan Bertahap

Alih-alih langsung mendirikan kampus mega 100MW, operator membangun secara bertahap fase-fase berukuran 10-20MW yang bisa beroperasi dalam 12-18 bulan. Pendekatan ini menyesuaikan permintaan pelanggan sehingga memberikan fleksibilitas dalam ekspansi. Pendekatan ini mendominasi di pasar berkembang seperti Indonesia, di mana permintaan kuat namun bertahap.

Baca juga: Masa Depan Data Center Indonesia: Infrastruktur dan Investasi Makin Naik

Ekosistem Interkoneksi

Peran data center di APAC sedang bergeser dari model leased space tradisional menjadi pusat interkoneksi. Keberadaan fasilitas carrier-neutral dengan ekosistem yang kaya (termasuk industri jasa keuangan, enterprise, ISP, dsb.) menciptakan efek jaringan yang mendasari harga premium. Model ini menjadi aset berharga, khususnya di wilayah di mana kapasitas bandwidth internasional melesat tinggi, tetapi infrastruktur local exchange masih relatif minim.

Lanskap APAC pada 2026: Perspektif Penyedia Layanan

Bagi perusahaan yang merencanakan penerapan 2026, pertimbangan strategis menjadi kompleks. Hyperscaler meluncurkan wilayah ketersediaan baru di seluruh APAC dengan skala yang belum pernah terjadi sebelumnya, namun pemilihan lokasi kini melibatkan evaluasi puluhan variabel di luar sekadar konektivitas.

Ketersediaan daya merupakan prioritas utama—apakah kapasitas 50 MW tersedia saat ini dengan potensi skalabilitas hingga 200 MW? Pasokan energi terbarukan menjadi pertimbangan krusial berikutnya, mengingat banyak RFP kini mensyaratkan 100% energi hijau sejak awal operasional. Faktor penting lainnya mencakup diversitas serat optik, risiko gempa, area rawan banjir, serta stabilitas regulasi setempat.

Inilah titik di mana spesialis regional menambah nilai. Perusahaan seperti Digital Edge, dengan pusat operasi di APAC, memiliki apa yang sulit ditawarkan oleh operator global: pemahaman mengenai standar regional dan juga local expertise. Terutama terkait birokrasi, lahan, serta daya yang mampu menopang kinerja hyperscale atau yang lebih besar lagi. Fasilitas operator regional telah dioptimalkan untuk iklim tropis; dan tata letak terdistribusi, hingga bisa mengurangi risiko lingkungan / bencana alam  sambil tetap dekat dengan rute konektivitas terbaik.

Keunggulan ini bukan hanya operasional—tetapi juga temporal. Di pasar di mana mengamankan lahan dan daya dapat memakan waktu 18-24 bulan, bekerja dengan penyedia yang telah menyelesaikan pekerjaan dasar dapat mempercepat penerapan hingga satu tahun atau lebih.

Proyeksi ke Depan: Titik Balik 2026

Narasi data center APAC bukan hanya tentang kapasitas—tetapi tentang kapabilitas. Pada tahun 2026, kawasan ini akan bertransisi dari pengikut menjadi pemimpin dalam mendefinisikan arsitektur data center generasi berikutnya. Pasar-pasar di seluruh Asia Tenggara melampaui kendala warisan untuk menghadirkan infrastruktur yang siap AI, bertenaga berkelanjutan, dan terkoneksi secara hiper.

Bagi perusahaan yang merencanakan strategi digital 2026 mereka, pesannya jelas: pasar APAC yang berkembang bukan lagi opsi sekunder, melainkan tujuan penerapan utama. Pertanyaannya bukan lagi apakah akan membangun kehadiran, tetapi seberapa cepat kapasitas dapat diamankan sebelum pasar yang tumbuh cepat ini mengalami pengetatan. Ekspansi tidak akan datang—ekspansi telah terjadi.

Alissa Shebila
Marketing Manager

Bicara dengan Tim Ahli EDGE DC

Lengkapi formulir di bawah ini untuk berdiskusi tentang infrastruktur digital modern bersama para ahli kami yang berdedikasi.
This site uses cookies
Select which cookies to opt-in to via the checkboxes below; our website uses cookies to examine site traffic and user activity while on our site, for marketing, and to provide social media functionality.

EDGE DC is transforming. Discover what’s next for Indonesia’s digital future.