Seri Prakiraan Tren data center 2026 – Bagian 3 dari 4
Tahun 2026 bukan lagi tentang sekadar bangunan yang diisi server. Kita sedang menyaksikan transformasi total pada arsitektur pendinginan. Fokus industri bergeser dari sekadar efisiensi listrik (Power Usage Effectiveness atau PUE) menuju efisiensi air (Water Usage Effectiveness atau WUE). Artikel ini akan membahas bagaimana teknologi baru mematahkan mitos bahwa AI harus selalu boros air, terutama di iklim tropis.
Benarkah AI Menggunakan Terlalu Banyak Air?
Sepanjang tahun 2024 dan 2025, narasi media sering kali menyoroti betapa borosnya AI terhadap sumber daya air. Judul-judul berita utama sering menyebutkan bahwa “satu percakapan dengan chatbot setara dengan membuang sebotol air”. Namun, penting untuk memahami fisika di balik klaim ini.
Pada desain data center konvensional, panas dibuang melalui menara pendingin (cooling towers). Sistem ini bekerja dengan cara menguapkan air ke atmosfer untuk membuang panas. Dalam model lama ini, semakin keras chip bekerja (untuk melatih model AI), semakin banyak panas yang dihasilkan, dan semakin banyak air yang harus diuapkan. Laporan dari peneliti di University of California memperkirakan bahwa pelatihan GPT-3 saja mengonsumsi ribuan liter air.
Namun, di tahun 2026, korelasi linier antara “performa tinggi” dan “pemborosan air” ini mulai terputus. Industri data center mulai meninggalkan metode penguapan terbuka demi teknologi closed-loop (sirkulasi tertutup) yang jauh lebih canggih. Air yang telah digunakan tidak dibuang tetapi di-recycle agar dapat dipakai kembali.
Tantangan Tropis: Ketika Udara Sudah Terlalu Basah
Pergeseran ke kawasan Asia Pasifik (seperti yang dibahas di Bagian 2) membawa tantangan teknis tersendiri. Negara-negara seperti Indonesia, Singapura, dan Filipina memiliki tingkat kelembapan udara yang sangat tinggi.
Sistem pendingin evaporatif tradisional bekerja sangat tidak efisien di daerah tropis. Anda tidak bisa mendinginkan air secara efektif dengan menguapkannya ke udara yang sudah jenuh air (lembab). Akibatnya, operator data center sering kali harus membuang lebih banyak energi dan air hanya untuk menjaga suhu server tetap stabil.
Inilah yang mendorong lahirnya standar baru di tahun 2026: Teknologi Membran.
Kebangkitan Membrane Liquid Cooling
Untuk mengatasi “jebakan panas” di wilayah tropis tanpa menguras cadangan air tanah setempat, teknologi baru seperti sistem liquid cooling mulai menjadi standar bagi operator yang berwawasan ke depan.
Berbeda dengan menara pendingin tradisional yang menyemprotkan air ke udara, sistem ini menggunakan membran semi-permeabel—bayangkan seperti lapisan Gore-Tex raksasa untuk data center. Teknologi ini memisahkan air dari aliran udara. Membran tersebut memungkinkan panas keluar melalui uap air mikroskopis, tetapi menahan air cair agar tidak terbuang sia-sia dan mencegah kontaminan dari udara luar masuk ke sistem.
Hasilnya sangat signifikan untuk tren keberlanjutan 2026:
- Penghematan Air: Teknologi membran mampu memangkas penggunaan air hingga 90% dibandingkan sistem konvensional.
- Efisiensi Tropis: Sistem ini tetap bekerja optimal di lingkungan dengan kelembapan tinggi, menjadikannya solusi ideal untuk pasar Asia Tenggara.
Penerapan teknologi ini bukan lagi sekadar teori. Perusahaan infrastruktur digital regional seperti Digital Edge telah mulai mengimplementasikan teknologi liquid cooling di fasilitas mereka, seperti di Indonesia dan Filipina, untuk membuktikan bahwa kepadatan daya tinggi (high density) bisa dicapai di iklim tropis tanpa mengorbankan efisiensi air. Ini adalah contoh nyata bagaimana inovasi fisik memungkinkan ekspansi AI di wilayah yang sebelumnya dianggap terlalu panas atau lembab.
Menuju WUE Nol: Standar Baru Keberlanjutan
Di tahun 2026, klien hyperscale (perusahaan raksasa teknologi) tidak lagi hanya bertanya “Berapa kapasitas listrik Anda?”, tetapi juga “Berapa angka WUE Anda?”.
Water Usage Effectiveness (WUE) menjadi metrik yang sama pentingnya dengan PUE. Di banyak negara, izin pembangunan data center baru semakin diperketat terkait penggunaan air tanah, terutama karena data center sering kali bersaing dengan kebutuhan air bersih masyarakat di sekitarnya.
Arsitektur data center masa depan akan bersifat “hibrida”. Di bagian atap, sistem membran (seperti liquid cooling) menciptakan siklus air dingin yang tertutup. Di dalam ruang server (data hall), air dingin tersebut dialirkan ke dua tujuan:
- Fan Walls: Untuk mendinginkan server cloud standar.
- Direct-to-Chip (DTC): Pelat pendingin yang ditempelkan langsung di atas chip AI berdaya tinggi (seperti arsitektur Nvidia Blackwell atau Rubin yang memiliki Thermal Design Power di atas 1000W).
Kombinasi ini memungkinkan data center untuk menangani beban kerja AI yang sangat berat dengan jejak air yang hampir nol (near-zero water footprint).
Kesimpulan
Transformasi fisik data center di tahun 2026 adalah tentang menjadi “tidak terlihat” secara lingkungan, sehingga data center nantinya tidak mempengaruhi lingkungan sekitarnya. Tren utamanya adalah memisahkan pertumbuhan komputasi dari konsumsi sumber daya alam.
Masa depan infrastruktur AI bukanlah tentang menemukan lebih banyak air untuk dibuang ke atmosfer, melainkan merekayasa sistem agar limbah tersebut hilang sepenuhnya. Dengan adopsi teknologi pendingin berbasis membran dan liquid cooling, data center di tahun 2026 akan menjadi utilitas yang sunyi, dingin, dan hemat air, siap menopang revolusi kecerdasan buatan global.